Wednesday, February 14, 2007

MEMBANGUN KEMANDIRIAN ANAK DIDIK

Membangun Kemandirian Anak Didik I.Pendahuluan Kualitas anak didik, pemilik masa depan, sangat ditentukan oleh perlakuan kita terhadap mereka saat ini. Maju mundurnya suatu bangsa di masa depan sangat dipengaruhi oleh kesiapan mental, intelektual, fisik, maupun sosial generasi yang saat ini masih berada dalam fase bimbingan kita, baik sebagai pendidik maupun orang tua. Salah satu unsur penting yang jarang mendapat perhatian dalam upaya pengembangan kualitas anak didik adalah pengembangan mental, karakter, sifat jiwa anak didik. Tampaknya hal ini karena tidak tercantumnya pengembangan karakter dalam kurikulum setiap pelajaran ( hanya beberapa seperti Pelajaran Agama, PPKn dan sejenisnya untuk penanaman karakter kesabaran, keuletan, kerendahan hati, keberanian, cinta tanah air, dan sebagainya ).

Sebenarnya setiap pengampu bidang studi memiliki kesempatan untuk melakukan peningkatan kualitas karakter anak. Ada sejumlah fenomena yang menarik berkaitan dengan karakter anak didik kita. Di satu sisi,Beberapa fenomena positip berkembang dengan baik. Keadaan jumlah siswa yang sedikit, membawa mereka mampu mengembangkan kualitas sosial dengan tampak terjalin akrabnya hubungan sesama mereka. Dengan bergabungnya siswa tingkat dasar sampai tingkat atas di bawah satu atap, memberi kesempatan lebih besar bagi mereka mengenal hubungan junior – senior dengan mengembangkan ’respect’ oleh junior dan ‘love’ oleh senior. Berbeda dengan sekolah di tanah air, hal ini langka untuk ditemukan. Meskipun demikian, ada gejala-gejala karakter yang kelihatannyanya masih perlu dikembangkan lebih lanjut. Dalam PBM di kelas, misalnya, tidak jarang kita temukan fakta-fakta. Siswa jarang sekali bertanya ketika diberi kesempatan untuk bertanya. Sebagian siswa, sebaliknya, bertanya terus-menerus ketika diminta untuk menyelesaikan sebuah prosedur dengan menanyakan setiap langkah atau bahkan hal-hal yang sangat sepele. Pada kesempatan lain, ketika diberi tes misalnya, sejumlah siswa yang secara kualitas intelektual tidak diragukan, tidak mampu menyelesaikan soal dengan cepat. Gejala lain yang tidak kalah menariknya adalah karakter ‘menunggu perintah’ dari pengelola kelas. Dalam keseharian, baik di sekolah maupun di rumah kita acapkali menemukan sejumlah anak yang masih memiliki ketergantungan baik dalam cara berfikir, bersikap maupun bertindak. Ketergantungan itu umumnya dipengaruhi oleh tingkatan umur. Misalnya anak usia SD memiliki ketergantungan yang lebih tinggi dibanding anak SMP dan anak SMP lebih memiliki ketergantungan dari anak SMA. Meskipun demikian, tidak jarang juga kita temukan anak pada tingkatan lebih tinggi ternyata memiliki ketergantungan lebih dibanding anak tingkatan di bawahnya Masalah utama yang penulis bahas adalah masalah karakter. Hal ini karena penulis berpendapat pengembangan kualitas karakter tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan pengembangan kualitas intelektual. Penulis menganggap Karakter yang berkualitas memiliki peranan penting bagi anak didik dalam mencapai keberhasilan, baik yang sifatnya antara seperti studi yang sedang dijalani, maupun kelak ketika menghadapi kehidupan nyata. Namun, karena masalah pengembangan karakter ini cukup luas, penulis membatasi masalah ini dengan memfokuskan diri pada masalah kemandirian. Dengan paparan pendek ini, penulis bermaksud untuk mengungkap dan menemukan aspek-aspek sekaligus melakukan langkah-langkah lebih lanjut yang bisa dilaksanakan dalam upaya pengembangan kualitas karakter anak khususnya mental kemandirian dan diharapkan bisa terus berkembang melalui diskusi PPG ini. II Bahasan Hampir sejalan dengan kualitas intelektual, watak kemandirian yang berkualitas pada sejumlah anak didik bisa jadi merupakan bawaan sejak lahir. Akan tetapi, realitas menunjukkan bahwa hal ini lebih banyak berkembang karena polesan dari pendidik/orang tua. Ketidakmandirian dan kemandirian pada anak didik bisa ditunjukkan dengan sejumlah indikator yang terwujud dalam pola tindak, sikap dan berpikir. Beberapa indikator ketidakmandirian : a. Adanya ketakutan/ kekhawatiran/ melakukan kesalahan. b. Sikap dan tingkah lakunya didasarkan pada apa yang dikatakan orang lain. c. Adanya perasaan malu. d. Senang tinggal di dalam suasana yang menyenangkan, lebih suka menghindari risiko dan selalu minta pendapat. e. Berupaya menutupi kesalahan / kelemahan. f. Cepat putus asa ketika hasil tidak sesuai rencana. g. Senang mencari jalan pintas yang mudah untuk mencapai tujuan h. Tidak memiliki inisiatif, apa yang dikerjakan berdasarkan perintah dan Setiap perintah/tugas dianggap sebagai beban Beberapa indikator kemandirian : a. Melakukan apa yang ia yakini benar meskipun orang lain mengkritik / mengejek bahkan mengancam b. Mau mengambil risiko & mau berupaya keras untuk meraih prestasi. c. Mau mengakui kesalahan secara terbuka & berupaya belajar dari kesalahan itu. d. Memandang tantangan sebagai kesempatan. e. Memiliki antusiasme & inisiatif yang tinggi. f. Mampu mengambil keputusan ketika dihadapkan pada pilihan yang agak pelik setelah mempertimbangkannya dan siap mengambil resiko yang mungkin mucul Langkah-langkah yang memungkinkan untuk dikembangkan dalam pembentukan kemandirian : 1. Bagi Pendidik a. Mengubah paradigma instruktif menjadi dialogis. Pendidik memposisikan diri sejajar dengan anak didik. Kita menjadikan mereka sebagai partner. Kita mencoba menyelami jiwa mereka, memahami keluh kesah mereka. Kekhawatiran mengenai wibawa pendidik akan turun perlu disingkirkan. Kewibawaan tumbuh dari penguasaan materi yang akan ditransfer dan kepiawaian mentransfer konsep dan skill kepada anak didik b. memberi dorongan dan kesempatan untuk berprakarsa kepada anak didik. Hal ini sesuai dengan dua dari tiga ajaran Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan nasional kita, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani c. Menitikberatkan kepada ganjaran daripada hukuman Berilah ganjaran pada prestasi sekecil apapun kepada anak Didik. Meskipun hanya ucapan lisan seperti Bagus! Excellent! dsb. Dengan pemberian ganjaran ini akan menumbuhkan percaya diri. Sebaliknya, apabila kita menitikberaatkan kepada hukuman dan menyalahkan anak secara terus-menerus, mental kemandirian anak didik akan tumbuh kerdil, takut melangkah, takut melakukan kesalahan, dan sejenisnya. d. Hindari memberi label ‘Stupid’ Jika anak didik belum mampu melaksanakan tugas dengan baik, kita perlu menahan diri (dengan menarik napas dalam-dalam). Hindari ucapan negatif kepada anak didik karena hal ini bukan hanya akan memupus potensi kemandirian mereka tetapi juga menumbuhsuburkan watak kasar. e. Mendorong semangat anak didik untuk berprestasi Secara berkesinambungan memompa anak didik untuk meraih keberhasilan dengan memberi contoh orang-orang/tokoh tokoh, masyarakat, dan bangsa yang berhasil dan keberhasilan itu diraih dengan kerja keras. Untuk sekedar menunjukkan sebagai contoh kepada anak didik, tampakkan semangat kita ketika proses transfer pemahaman konsep dan ketrampilan berlangsung di kelas. 2. Saran Pendidik untuk anak didik a. Hilangkan keraguan, kekhawatiran, dan ketakutan akan kegagalan Kegagalan harus dimaknai sebagai kita belum berhasil. Kita harus memberikan kesadaran kepada mereka bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan menuju sukses. Masalah-masalah, kesulitan-kesulitan akan membuat kita menjadi lebih kuat kalau kita terus berusaha untuk mengatasinya. Mereka perlu sadar bahwa mereka sering meraih sukses. Yang paling pokok adalah kerjakan yang terbaik tehadap apa yang sedang dikerjakannya. b. Jadilah diri sendiri Jangan berupaya menjadi seperti orang lain. Kita perlu menumbuhkan kesadaran kepada anak didik bahwa setiap individu memiliki kelebihan-kelebihan masing-masing. Oleh karena itu kita tidak perlu mengritik diri sendiri ketika kita tidak sesukses, secantik,sepintar orang lain.Setiap individu adalah manusia yang sangat berharga dan patut mendapat penghargaan. c. Hilangkan rasa malu tidak pada tempatnya Malu adalah rasa enggan, tidak senang (karena rendah, hina) Malu yang baik adalah malu ketika melakukan ketidakbenaran. Sedangkan malu yang tidak pada tempatnya perlu dikikis, seperti merasa tidak mampu melakukan pekerjaan di depan tema-teman lain/orang banyak. Anak perlu berjuang mengatasi masalah ini diantaranya dengan berlatih rileks baik pikiran maupun fisik. Anak tidak bertanya ketika diberi kesempatan untuk bertanya kemungkinannya ada dua: paham atau tidak paham tetapi malu untuk bertanya karena bisa jadi ia beranggapan pertanyaannya tidak bermutu/terlalu sepele menurut teman lain. III. Penutup Kemandirian merupakan aspek mental yang penting untuk dibangun pada anak didik karena memiliki peranan penting dalam pencapaian keberhasilan bagi anak. Ada sejumlah indikator yang menunjukkan watak kemandirian dan ketidakmandirian. Ada Sejumlah langkah yang kemungkinan bisa diterapkan dalam pembangunan kemandirian anak didik. Mudah-mudahan kemandirian anak didik kita bisa terus berkembang dengan baik dan mereka mencapai keberhasilan di sekolah maupun ketika terjun di masyarakat kelak. Cairo, 15 Januari 2007
Referensi:
a. http//www.mindtols.com/selfcon.html
b. http//www.More-Self-Esteem.com/self_confidence_tips.htm
c. http//www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/k/ d. http//www.queendom.com/psychotest/


3 comments:

WiedHa said...

Nice Posting...

rahmategpyt said...

plz go to my blog http://www.rahmatmesir.blogspot.com

porcelainveins said...

This is what we called as autonomous learner, sir?